Uang>Ilmu>Makanan>Obat>Nyawa. Pertidak samaan ini salah??
Posted by catrya on 27 May 2006
Dari Kompas…
Ini yang terjadi di negeri ini.
Terlambat Diobati
Permana Akhirnya TewasSetelah tiga hari berada di ruang IGD RSCM, Permana (12), bocah yang mencari uang di kereta api, akhirnya tewas di ruang Irna - A lantai 5 kamar 526, Sabtu (27/5) pagi. Ia meninggal karena terlambat ditangani tim medis.
Seperti telah diberitakan kemarin (Warta Kota Sabtu 27/5), sebelum masuk ke ruang IGD RSCM, Permana sempat dibawa ke RS Islam Pondok Kopi, Jakarta Timur. Namun, karena tak ada orang yang bertanggung jawab dan pihak RSI Pondok Kopi tidak sanggup menanganinya, ia dikirim ke RSCM.
“Permana tidak bisa mendapat perawatan yang baik karena sistem,” ujar Asfinawati, pengacara dari LBH Jakarta.
Asfinawati yang sejak awal mengetahui terjadinya peristiwa ini mengatakan, karena Permana hanya seorang gembel, ia tidak diberikan pengobatan yang semestinya.
“Untuk pelayanan bagi orang miskin pihak rumah sakit tentu akan meminta kartu keluarga miskin. Tapi, Permana itu tidak mempunyainya sebab orangtuanya tidak ada,” paparnya.
Selain itu, meski ia mendapat bantuan dari negara untuk pengobatan, pihak rumah sakit tidak akan memberi pengobatan yang bagus.
“Obat atau perawatan yang diberikan bukan obat yang mempunyai standar manjur. Ia hanya mendapat obat standar puskesmas kendati begitu hebat penyakit yang dia derita,” ungkap Asfin.
Saat ditemui Warta Kota, Sabtu (28/5), dari tubuh Permana yang terbujur kaku terlihat kalau kakinya bengkak dengan dibebat kain coklat. Darah segar pun tampak tembus persis di paha bagian dalam. Sedangkan lengan kirinya bengkak dan terdapat bekas luka di pergelangan bagian depan.
Asrul, salah seorang pasien yang berada di samping Permana, mengatakan, bocah yang mencari nafkah dengan menyapu di dalam KA itu masuk ke ruang kamar 507, Irna-A sekitar tengah malam. Saat itu, kondisi Permana sudah diinfus. Sekitar tengah malam, infusan sempat diganti. “Yah, suster sempat mengganti botol infusan yang sudah sedikit dan macet,” ujar Asrul.
Sebelum dipindahkan ke kamar 526, yang masih terletak di lantai 5, Buyung, yang menunggui Asrul, mengaku mendengar Permana merintih kesakitan. “Dia sempat merintih, aduh.. sakit..,” ujar Buyung.
Kemudian, menjelang pagi, suster memindahkan Permana ke ruang 526. Permana terbaring seorang diri, di dalam ruangan berkapasitas dua pasien ini.
Pihak Komisi Nasioanal Perlindungan Anak (Komnas PA) semula akan mengunjungi Permana. Sekitar pukul 10.00, saat Warta Kota mendatangi kamar tersebut, salah seorang suster yang piket mengatakan bahwa Permana sudah meninggal. “Pasien itu sudah meninggal tadi pagi,” ujar salah seorang suster.
Warta Kota dan rombongan Komnas PA mendatangi kamar jenazah. Setengah jam berselang, lima orang rekan Permana tiba di kamar jenazah. Dengan penuh penasaran, mereka yang sebagian besar masih seumur dengan korban, meneteskan air mata ketika melihat wajah Permana.
David, salah seorang rekan Permana, menuturkan, sebelum kejadian, Permana dan Budi menjalankan rutinitas sebagai tukang sapu di KA. Kedua bocah yang tinggal di Stasiun Bekasi ini naik Kereta Bisnis Sawunggalih (Kutoarjo - Jakarta), Kamis (25/5) siang (bukan KRL seperti diberitakan sebelumnya–Red).
Permana terhitung pendatang baru di kalangan pencari uang di KA. “Dia nggak tahu bahwa di kereta bisnis itu banyak polsuska yang sering ngejar-ngejar kita,” ujar David.
Di tengah perjalanan, keduanya melihat petugas yang mengontrol di gerbong empat. Karena takut, keduanya pun menyelamatkan diri. “Pas lihat ada petugas, Budi ngumpet di WC persis dekat pintu gerbong tiga. Permana duduk ketakutan di pinggir pintu,” ujar David.
Kemudian, petugas itu menendang Permana hingga terpental keluar gerbong. Naas, kaki kanannya nyangkut di peron, sehingga tersambar tiga gerbong kereta tersebut. “Semua orang berkerumun di tempat itu. Saya melihat kulitnya sobek, bahkan tulang kakinya terlihat nyaris putus,” ujar David.
Salah seorang pengurus Komnas PA, Sephin, mengatakan, pihaknya belum bisa mendapat medical record dari RSCM. Salah seorang petugas RSCM menyarankan Komnas PA menanyakan langsung kepada direktur RSCM, Senin (29/5).
Aris Merdeka Sirait, Sekjen Komnas PA, mengatakan, pihaknya akan meminta pertanggungjawaban RSCM dalam menangani pasien ini. “Kita ingin meminta medical record kepada RSCM dan menanyakan apakah anak ini mendapatkan perawatan dengan baik atau tidak?”ujarnya. (nir/m2)
